Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

 

Minggu, 20 Maret 2011

Si Kaki Gajah dan Si Sumbing

0 komentar
Omeng panggilannya sehari-hari. Anak berumur +/_  7 tahun. Ia yang seharusnya mengawali masa pendidikan di bangku Sekolah Dasar, nyatanya harus mengalami kepahitan dalam hidupnya dengan mengemis dari satu rumah ke rumah lainnya. Beban berat harus dipikul olehnya. Selain kemiskinan yang menghantui masa depannya, ia harus merasakan sakit "kaki gajah" yang dideritanya. Tidak mudah untuk ia berjalan apalagi jika harus mengemis dari satu rumah kerumah lainnya. 

Ditemani oleh kakaknya yang bernama Agus. Secara fisik, ia normal. Tapi Agus kerap minder jika diajak bicara. Bibir sumbing yang agus miliki nyatanya membuat ia sulit berkomunikasi. 

Mereka mengawali hari dengan mengemis dari satu rumah ke rumah lainnya demi memenuhi kebutuhan  yang tidak lain  dan tidak bukan adalah untuk makan.

Ironis memang, tidak jarang cacimaki serta rasa acuh mereka dapati dari orang-orang sombong dan tidak memiliki kepedulian terhadap sesama.

Keinginan mereka sangatlah sederhana, mereka hanya ingin hidup secara normal layaknya anak-anak kecil pada umumnya. Bersekolah saat matahari telah bersinar terang, bermain saat sore tiba, mengaji setelah shalat magrib berjamaah.

Miris aku dibuatnya, bahkan hati ingin menangis membayangkan jika hal itu terjadi padaku ataupun keluargaku.

Didalam hati kecilku berjanji, kelak jika aku menjadi seorang yang sukses aku ingin menampung kalian semua dan menjadikan kalian orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain dan berhenti mengadahkan tangan mengharapkan sesuatu materi yang tak pasti.

Sabtu, 15 Januari 2011

Jika aku menjadi jurnalis...

2 komentar
Ketika melihat salah satu program stasiun televisi swasta "jika aku menjadi....".
Langsung terbayangkan olehku jika aku menjadi seorang jurnalis. Sebenarnya ini bukan cita-citaku sesungguhnya. Namun, hal itu muncul ketika aku berawal menekuni dunia fotografi. Bagiku, visualisasi  sebuah foto kadang bisa menceritakan suatu kejadian yang mempunyai nilai historis yang tinggi. 

Bayangkan jika Indonesia tidak mempunyai dokumetasi Presiden Soekarno dalam bentuk foto. Mungkin kita sebagai generasi penerus bangsa hanya bisa membayangkan rupa Sang Proklamator tanpa tahu bentuk wajah serta kesehariannya.
Menurutku, posisi jurnalis setingkat dengan guru, polisi, maupun hakim pengadilan. Bayangkan jika posisi mereka hancur karena kinerja yang tidak bertanggung jawab. Mungkin sang jurnalis bisa perbaiki dengan menginformasikan kepada khalayak umat bahwa guru yang ada di SD ******* telah melakukan pelecehan seksual terhadap muridnya. atau polisi yang bertugas di Jalan******** telah melakukan pungli kepada pedagang kaki lima. atau hakim pengadilan pada terdakwa "sang mafia hukum" telah menerima suap sebesar Rp ** milyar. Mungkin dengan hadirnya seorang jurnalis yang berani mengungkapkan hal tersebut. Kita bisa menilai dan memperbaiki agar bangsa ini jadi lebih baik.

Aku memang bukan pakar jurnalistik. Tapi aku optimis bahwa kelak aku akan menjadi itu...

Ketika kelemahan itu muncul....

2 komentar
Setiap manusia dimuka bumi ini pasti punya kelemahan. Seorang Presiden dengan kewibawaannya pun aku yakin memiliki itu. Begitu juga aku, dengan segala bentuk kelemahan yang aku miliki. Entah dari segi fisik ataupun nonfisik. Seperti : bentuk badanku memang tinggi tapi bongkok, gaya bahasaku dengan artikulasi yang kurang jelas jika sedang berbicara, gigiku aga kekuning-kuningan karena aku termasuk perokok  dan peminum yang handal, pola kerja otakku yang kerap kali lemot, dompetku yang hanya dipenuhi kartu nama nggak jelas dan masih banyak hal yang kerap membuat ku jadi kecil hati.
Apakah kalian merasa hal yang sama? atau kalian tidak punya kelemahan...
Jujur, aku bersyukur kelemahan itu masih bisa aku nikmati sampai saat ini. Karena jika tidak, mungkin aku akan menjadi seorang pria sombong. Seorang pria yang kerapkali memamerkan kesempurnaan yang dimilikinya. 
Menurutku, kelemahan itu wajar. Tergantung kita menyikapinya.
Aku yakin, jauh dilubuk hati yang terdalam. kalian paham harus bagaimana mengatasi kelemahan itu sendiri.